CAP GO MEH

CAP GO MEH

Cap go meh merupakan salah satu perayaan dalam etnis Tionghoa. Dirayakan dengan sangat meriah di berbagai penjuru dunia. 15 hari setelah hari raya Imlek, di adakan perayaan cap go meh  dengan berbagai atraksi barongsai, liong, bahkan ada gambang kromong. Hal ini menandakan budaya Tionghoa telah membaur di dalam masyarakat Indonesia. Selain berbagai macam hiburan di adakan, pada cap go meh ada tradisi gotong tepekong yaitu mengarak berbagai dewa dan dewi keliling rumah yang ingin sembahyang.

Cap go meh merupakan 15 hari pertama di tahun baru Imlek, dan di dalam Buddhisme setiap tanggal 1 dan 15 tanggal lunar merupakan hari Uposatha. Di hari Uposatha umat Buddha di anjurkan untuk banyak melakukan kebajikan seperti melaksanakan Atta Sila, melaksanakan puja bakti, mendengarkan khotbah Dhamma, dan lain sebagainya. Kata Uposatha sendiri berasal dari kata “Upavasatha” yang menunjuk pada malam menjelang upacara Soma, sebuah tradisi Hindu. Tradisi Uposatha memang diambil dari tradisi Hindu oleh Hyang Buddha, atas usul Raja Bimbisara dari Magadha.

Cap go meh sebaiknya kita jadikan momentum untuk menambah benih-benih kebajikan, karena dengan kebajikanlah hidup seseorang akan bahagia dan lebih baik lagi. Cap go meh juga menjadi sarana kebersamaan antar etnis, terbukti pada saat sekarang ini perayaan cap go meh tidak hanya ada barongsai tetapiada juga kesenian-kesenian asli dari Indonesia yang ikut meramaikan cap go meh. Tradisi mengarak dewa dan dewi juga memberikan manfaat untuk umat manusia, menggotong atau mengarak dewa dan dewi menandakan wujud bakti atau terima kasih kepada para dewa dan dewi yang selalu memberikan keberkahan dan kemakmuran. Hal ini mengingatkan kita agar selalu memiliki rasa syukur dan terima kasih atas apa yang diperoleh.

Mari kita jadikan cap go meh sebagai tanda untuk meningkatkan keyakinan kita kepada Buddha Dhamma. Serta menambahkan rasa tekad kita untuk menjadi manusia yang berguna dan tentu saja untuk hidup yang lebih baik lagi. Dan semoga kita semua selalu dalam perlindungan para Buddha dan Bodhisatva.

Sebelumnya :

<<Merubah Nasib Ke Arah Yang Baik

<<Kembali ke Artikel

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.