Merubah Nasib Ke Arah Yang Baik

Guru Buddha memberikan perumpamaan bahwa terlahir sebagai manusia bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami yang banyak, lahir sebagai manusia sungguh sulit untuk itu kita yang sudah terlahir sebagai manusia harus bersyukur karena di alam manusialah kita bisa menjadi Buddha.

Manusia lahir kedunia ini sudah membawa buah karma, membawa sifat dan kemauan, serta membawa daya kemampuan jasmani dan rohani kita dari masa lampau.

Nasib baik perbuatan baik, mudah mendapatkan kebahagiaan.

Nasib baik perbuatan buruk, masa depan belum tahu bagaimana.

Nasib buruk perbuatan baik, hari tua pasti terjamin.

Nasib buruk perbuatan buruk, sengsara seumur hidup.

Kalau kita pada kehidupan ini terlahir di keluarga yang tidak mampu, kita jangan putus asa, kita harus merubah kehidupan kita ke yang lebih baik dengan cara yaitu dengan memiliki perbuatan yang baik. Kalau kita menginginkan kehidupan yang lebih baik, kita harus menanamkan 4 kata dalam diri kita yaitu “jangan takut, jangan menyerah” empat kata ini kalau kita tanamkan dalam diri kita dan kita praktekkan maka kehidupan kita akan menjadi lebih baik, tentu saja dalam mempraktekkannya ke arah yang baik atau maju bukan ke arah yang buruk atau kemunduran. Kita jangan takut untuk menghadapi masalah yang menghadang, dan kita jangan menyerah begitu saja apabila kesulitan demi kesulitan datang menghampiri kita, dengan demikian kehidupan kita akan lebih baik lagi.

Selain 4 kata tadi yang harus kita tanamkan, untuk membuat kehidupan yang lebih baik seharusnya kita tidak menyepelekan hal-hal yang kecil, karena hal-hal yang kecil ini memberikan dampak yang besar bagi kita. Seperti cerita di bawah ini :

Ada dua orang dari desa, sebut saja A dan B yang telah lama bersahabat. Suatu ketika, dua orang sahabat ini telah lulus dari sekolah teknik dan mendapat gelar sarjana. Mereka berdua melamar pekerjaan di sebuah pabrik yang besar di kota. Keduanya diterima bekerja di pabrik tersebut dan harus menjalani masa percobaan selama 3 bulan. Pada hari pertama bekerja, mereka di beri pengarahan oleh manajer pabrik tersebut, “kalian harus dapat mengerjakan pekerjaan dengan baik dan harus teliti agar tidak gugur dalam penilaian kembali”. Mereka berdua berjanji akan bekerja sebaik-baiknya dan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan.

Selama 3 bulan masa percobaan, mereka bekerja sangat giat, rajin dan dengan senang hati. Pada bulan ke 3 saat terima gaji, tiba-tiba si B di berhentikan dari pekerjaannya. Sepanjang perjalanan pulang kerumah, si B marah-marah kepada A dan menuduh kalau si A telah melaporkan hal yang tidak baik kepada manajer pabrik itu. A berkata kepada B “kau tahu, sepanjang hari kita sibuk bekerja, tidak ada waktu untuk santai, bagaimana mungkin aku melaporkan hal yang tidak kepada manajer, aku juga bingung dan kaget kenapa kamu di berhentikan dari pekerjaan ini”

Esok harinya, si A menemui manajer untuk menanyakan alasan B tidak diterima di perusahaan motor ini. Manajer berkata, “Pekerjaan B cukup baik, akan tetapi perusahaan tidak dapat memakainya, karena si B pulang tanpa memadamkan lampu ruangannnya. Hal itu terjadi berulang-ulang kali dan saya yang harus memadamkan lampu itu. Sedangkan kamu berbeda dengan si B, lampu ruanganmu selalu padam dan meja kerjamu selalu rapih. Aku tidak mungkin memperkerjakan orang yang tidak teliti, karena sebagai teknisi di pabrik ini harus memiliki ketelitian yang baik, oleh karena itu saya putuskan untuk memberhentikan B dari pekerjaannya”.

Hal yang kecil saja bisa membuat diri kita menjadi sengsara seperti cerita di atas, hanya karena tidak mematikan lampu ketika jam kerja telah selesai membawa akibat yang buruk. Untuk itulah, kalau kita ingin merubah nasib rubahlah kebiasaan-kebiasaan yang buruk yang ada dalam diri kita, kita harus memperhatikan hal-hal yang kecil, hal yang kecil saja tidak bisa diperhatikan bagaimana dengan yang besar.

Seperti yang di ucapkan oleh Buddha dalam Dhammapada bagian Appamada Vagga syair 21 yang berbunyi :

Kewaspadaan adalah jalan menuju kekekalan, kelengahan adalah jalan menuju kematian. Orang yang waspada tidak akan mati, tetapi orang yang lengah seperti orang yang sudah mati.

Jangan biarkan diri anda hanya menerima nasib saja, kita harus berjuang untuk merubah kehidupan kita ke arah yang lebih baik seperti yang di katakan oleh Guru Buddha dalam Anguttara Nikaya kelompok delapan tentang kesejahteraan umat awam yang berbunyi :

Ada empat hal yang akan membawa pada kesejahteraan dan kebahagiaan bagi seorang perumah tangga di dalam kehidupan yang sekarang ini, yaitu pencapaian usaha yang tak kenal henti, pencapaian perlindungan, persahabatan yang baik, dan kehidupan yang seimbang.

Usaha yang tak kenal henti bisa dijadikan semangat untuk menuju ke kehidupan yang lebih baik lagi, akhir kata semoga kita bisa berjuang untuk merubah kehidupan kita menjadi lebih baik, dan semoga semua makhluk hidup beruntung dan berbahagia.

Sadhu… Sadhu… Sadhu….

Selanjutnya:

>>Cap Go Meh

Sebelumnya :

<<Siapakah Aku?

<<Kembali ke Artikel

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: